Arsip Foto. Menteri PPN/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro menyampaikan arahannya saat penyusunan rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024 di Bandung, Jawa Barat, Kamis (9/8/2018). Menurut Menteri Bambang S Brodjonegoro RPJMN 2020-2024 akan mengadopsi konsep ekonomi hijau, terutama lewat pembangunan rendah karbon. (ANTARA /M Agung Rajasa)
Bogor, Jawa Barat (ANTARA News) - Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Bambang Brodjonegoro meminta kalangan akademisi memberikan saran solusi masalah perkotaan kepada pemerintah.
"Kami berharap kampus bisa memberikan masukan gambaran yang jernih tentang rencana perkotaan," katanya dalam konferensi internasional Jabodetabek studi forum di Kota Bogor, Rabu.
"Di sini peran akademisi diminta untuk dapat ikut memberikan sumbang saran dalam pembangunan perkotaan," tambah Bambang.
Ia lalu memaparkan masalah-masalah mendasar di wilayah kota besar seperti Jakarta, salah satunya ketersediaan air bersih yang makin lama makin susut dan jaringan air bersih yang belum menjangkau seluruh warga.
Persoalan Jakatra berikutnya, menurut dia, fasilitas sanitasi rumah tangga yang masih di bawah rata-rata nasional serta keterbatasan ketersediaan sarana angkutan publik memadai.
Masalah Jakarta lainnya, ia melanjutkan, adalah ketersediaan permukiman. Warga Jakarta terus bertambah, sementara lahan untuk permukiman makin terbatas dan ketersediaan rumah susun sewa atau rumah susun sederhana milik untuk kalangan menengah ke bawah sangat terbatas.
"Kondisi ini menyebabkan banyak orang hidup di tempat tinggal daerah yang kurang layak," katanya.
Pemerintah akan menjadikan saran solusi persoalan perkotaan dari kalangan akademisi sebagai masukan dalam pembuatan rencana pembangunan perkotaan.
Baca juga: Pelapor PBB soroti permasalahan pemukiman di Indonesia
Baca juga: Jakarta butuh diet, kata ahli perencana kota
"Kami berharap kampus bisa memberikan masukan gambaran yang jernih tentang rencana perkotaan," katanya dalam konferensi internasional Jabodetabek studi forum di Kota Bogor, Rabu.
"Di sini peran akademisi diminta untuk dapat ikut memberikan sumbang saran dalam pembangunan perkotaan," tambah Bambang.
Ia lalu memaparkan masalah-masalah mendasar di wilayah kota besar seperti Jakarta, salah satunya ketersediaan air bersih yang makin lama makin susut dan jaringan air bersih yang belum menjangkau seluruh warga.
Persoalan Jakatra berikutnya, menurut dia, fasilitas sanitasi rumah tangga yang masih di bawah rata-rata nasional serta keterbatasan ketersediaan sarana angkutan publik memadai.
Masalah Jakarta lainnya, ia melanjutkan, adalah ketersediaan permukiman. Warga Jakarta terus bertambah, sementara lahan untuk permukiman makin terbatas dan ketersediaan rumah susun sewa atau rumah susun sederhana milik untuk kalangan menengah ke bawah sangat terbatas.
"Kondisi ini menyebabkan banyak orang hidup di tempat tinggal daerah yang kurang layak," katanya.
Pemerintah akan menjadikan saran solusi persoalan perkotaan dari kalangan akademisi sebagai masukan dalam pembuatan rencana pembangunan perkotaan.
Baca juga: Pelapor PBB soroti permasalahan pemukiman di Indonesia
Baca juga: Jakarta butuh diet, kata ahli perencana kota
Pewarta: Laily Rahmawaty
Editor: Maryati
COPYRIGHT © ANTARA 2018
Editor: Maryati
COPYRIGHT © ANTARA 2018


0 comments:
Post a Comment
Note: Only a member of this blog may post a comment.